Selasa, 01 April 2014

Akuntansi Manunggaling Kawula-Gusti

Akuntansi modern tidak mungkin bebas dari nilai dan kepentingan apapun, karena dalam proses penciptaan akuntansi melibatkan manusia yang memiliki kepribadian dan penuh dengan kepentingan. Nilai utama yang melekat dalam diri akuntansi modern adalah nilai egoistik. Bila informasi yang dihasilkan oleh akuntansi egoistik dikonsumsi oleh para pengguna, maka dapat dipastikan bahwa pengguna tadi akan berpikir dan mengambil keputusan yang egoistik pula. Demikian ungkap Prof Iwan Triyuwono SE Ak MEc PhD dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar bidang ilmu Akuntansi Syari’ah, Sabtu 2/9, berjudul Akuntansi Syari’ah: Menuju Puncak Kesadaran Ketuhanan Manunggaling Kawula-Gusti, Lebih lanjut Prof Iwan Triyuwono menyampaikan, nilai utama kedua yang melekat pada akuntansi modern adalah nilai materialistik, yang juga merupakan sifat yang melekat pada diri manusia. Dengan nilai ini akuntansi hanya akan memberikan perhatian pada dunia materi (uang). Sifat egoistik dan materialistik, diekspresikan dengan jelas pada laporan keuangan. Laporan rugi-laba misalnya, menunjukkan akomodasi akuntansi modern terhadap kepentingan (ego) stakeholders untuk mendapatkan informasi besarnya laba yang menjadi haknya. Setelah kedua nilai utama akuntansi modern itu, muncullah nilai utilitarianisme sebagai akibat dari menguatnya dua sifat sebelumnya. Sifat utilitarian adalah sifat yang menganggap bahwa nilai baik atau buruk dari sebuah perbuatan, diukur dengan ada tidaknya utilitas yang dihasilkan dari perbuatan yang dilakukan. Sehingga, sepanjang perbuatan itu menghasilkan utilitas, maka sepanjang itu pula sebuah perbuatan dikatakan baik tanpa melihat bagaimana prosesnya. Ketiga nilai yang dimiliki oleh akuntansi modern ini kemudian dikenal sebagai kapitalisme. Dalam pidato ilmiah itu Prof Iwan Triyuwono menyatakan realitas akuntansi modern yang dibangun dengan nilai-nilai egoistik, materialistik dan utilitarian, menjadi belenggu bagi manusia modern untuk menemukan jati dirinya dan Tuhan. Menjadikan manusia modern terperangkap dalam dunia materi yang hedonis. Sehingga, akan mengakibatkan terjadinya dehumanisasi bagi diri manusia itu sendiri. Selain menjadikan manusia jauh dari penemuan jati dirinya bahkan menjauhkan manusia pada Tuhannya, karakter ini juga merusak hubungan antar manusia. Dimana relasi sosial menjadi terasuki oleh sifat egoistik, materialistik dan utilitarian. Akuntansi Syari’ah Bagi kalangan masyarakat muslim, Tuhan menjadi tujuan akhir (manunggaling kawula-Gusti) dan menjadi tujuan puncak kehidupan manusia. Akuntansi syari’ah, menurut Prof Iwan Triyuwono, hadir untuk melakukan dekonstruksi terhadap akuntansi modern. Melalui epistemologi berpasangan, akuntansi syari’ah berusaha memberikan kontribusi bagi akuntansi sebagai instrumen bisnis sekaligus menunjang penemuan hakikat diri dan tujuan hidup manusia. Pada versi pertama, akuntansi syari’ah memformulasikan tujuan dasar laporan keuangannya untuk memberikan informasi dan media untuk akuntabilitas. Informasi yang terdapat dalam akuntansi syari’ah merupakan informasi materi baik mengenai keuangan maupun nonkeuangan, serta informasi nonmateri seperti aktiva mental dan aktiva spiritual. Contoh aktiva spiritual adalah ketakwaan, sementara aktiva mental adalah akhlak yang baik dari semua jajaran manajemen dan seluruh karyawan. Sebagai media untuk akuntabilitas, akuntansi syari’ah memiliki dua macam akuntabilitas yaitu akuntabilitas horisontal, dan akuntabilitas vertikal. Akuntabilitas horisontal berkaitan dengan akuntabilitas kepada manusia dan alam, sementara akuntabilitas vertikal adalah akuntabilitas kepada Sang Pencipta Alam Semesta. Pada versi kedua, tujuan dasar laporan keuangan syari’ah adalah: memberikan informasi, memberikan rasa damai, kasih dan sayang, serta menstimulasi bangkitnya kesadaran keTuhanan. Ketiga tujuan ini menurut Prof Iwan Triyuwono, merefleksikan secara berturut-turut dunia materi, mental, dan spiritual. Tujuan pertama secara khusus hanya menginformasikan dunia materi baik yang bersifat keuangan maupun non keuangan. Tujuan kedua membutuhkan bentuk laporan yang secara khusus menyajikan dunia mental yakni rasa damai, kasih dan sayang. Selanjutnya tujuan ketiga, disajikan dalam wadah laporan yang khusus menyajikan informasi kebangkitan kesadaran keTuhanan. Kinerja manajemen syari’ah yang ditawarkan Prof Iwan Triyuwono memiliki tiga bentuk realitas yaitu fisik (materi) dengan perpektif kesalehan keuangan yang memiliki indikator seperti nilai tambah syari’ah (profit), dan zakat. Realitas berikutnya adalah psikis (mental) dengan perspektif kesalehan mental dan sosial, yang memiliki indikator seperti damai, kasih, sayang, adil, empati, dan peduli. Sementara realitas terakhir adalah spiritual dengan perspektif kesalehan spiritual, yang memiliki indikator seperti ikhsan, cinta, dan takwa. Pada akhir pidato, disampaikan bahwa akuntansi syari’ah dibangun dengan mengambil inspirasi dari syari’ah Islam. Secara ontologis, akuntansi syari’ah memahami realitas dalam pengertian yang majemuk. Sedangkan secara epistemologis, akuntasi syari’ah dibangun berdasarkan kombinasi antara akal yang rasional dengan rasa dan intuisi (kombinasi dunia fisik dengan dunia non fisik). Perbedaan yang paling menonjol dengan akuntansi modern adalah, akuntansi syari’ah dibangun dengan berangkat dari titik tolak filosofi hidup manunggaling kawula-Gusti (menyatu dengan Tuhan). Copyright : Prof Iwan Triyuwono

Rabu, 12 Maret 2014

Activity-Based Costing (ABC) system

Dalam praktek akuntansi manajemen, sistem manajemen biaya secara luas diklasifikasikan menjadi functional-based (perhitungan biaya berdasarkan fungsional) dan activity-based (perhitungan biaya berdasarkan aktifitas). Saat ini, sistem manajemen biaya berdasarkan functional-based digunakan lebih luas daripada activity-based system. Kemudian hal ini berubah seiring degan kebutuhan terhadap keakuratan informasi biaya yang semakin meningkat, bertambahnya kompleksitas produk, product life cycles yang semakin pendek, kebutuhan peningkatan kualitas dan tekanan kompetisi yang intens. Untuk perusahaan atau organisasi yang menghadapi hal seperti ini pada umumnya menggunakan pendekatan produksi just-in time dan menggunakan teknologi manufaktur yang maju. Functional-based sangat tidak tepat jika di implementasikan pada perusahaan atau organisasi seperti ini. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu sistem yang tepat dan lebih akurat untuk membangun keuntungan jangka panjang. Untuk mengatasi hal tersebut dibutuhkan activity-based costing (ABC) systems. Sistem manajemen berdasarkan aktifitas atau Activity-Based Costing (ABC) digunakan dalam rangka untuk merespon perubahan yang signifikan dalam persaingan bisinis. Tujuan utama dari Activity-Based Costing (ABC) adalah untuk meningkatkan kualitas, konten, relevansi, dan waktu dari informasi biaya. Guan et al (2006) menyatakan : “A cost accounting system that uses both unit and non-unit-based activity drivers to assign costs to cost objects is called an activity-based cost (ABC) system”. Jadi, ABC system adalah sistem akuntansi biaya yang menggunakan perhitungan biaya berdasarkan aktifitas-aktifitas baik yang berhubungan langsung maupun tidak berhubungan langsung dengan unit objek suatu produksi. Contoh dari aktifitas-aktifitas tersebut adalah shipping, packaging, dan lain-lain. Pada bagian laian, Horngren et al (1991) memberi gambaran aktifitas-aktifitas lebih jelas yang diperhitungan dalam activity-based costing yaitu dapat berupa kejadian, tugas, atau unit pekerjaan dengan tujuan khusus seperti contoh, perancangan produk, penyetelan mesin, pengoperasian mesin, dan pendistribusian produk. Sistem ABC mengkalkulasi biaya setiap aktifitas dan mengalokasikan biaya ke objek biaya seperti barang dan jasa berdasrkan aktifitas yang dibutuhkan untuk memproduksinya. Contoh perhitungan sistem ABC : CV. Ananda memproduksi dan menjual 2 jenis karpet, yaitu wol dan sintesis. Pihak manajemen sedang memperhitungkan ulang biaya produksi kedua jenis karpet tersebut agar dapat memaksimalkan keuntungan dalam persaingan dewasa ini. Adapun data biaya tidak langsung yang berhasil dikumpulkan adalah sebagai berikut : Aktifitas Biaya Kapasitas yang digunakan Permesinan Rp. 180.000.000 150.000 jam mesin Pengujian Rp. 120.000.000 40.000 jam pengujian Pengerjaan Ulang Rp. 60.000.000 20.000 jam pengerjaan ulang Konsumsi dari kedua jenis karpet tersebut dijabarkan sebagai berikut : Produk Wol Sintesis Unit yang diproduksi 10.000 100.000 Jam mesin 100.000 50.000 Jam pengujian 20.000 20.000 Jam pengerjan ulang 15.000 5.000 Untuk membebankan biaya tidak langsungnya CV. Ananda mendasarkannya pada jam mesin. Hitunglah pembebanan biaya tidak langsung per unit jenis karpet dengan menggunakan perhitungan ABC. Jawab : Perhitungan ABC Pendekatan berdasarkan aktifitas biaya masing-masing aktifitas dihitung sebagai berikut : Permesinan : Rp. 180.000.000/100.000 Jam mesin : Rp. 1.200/jam Pengujian : Rp. 120.000.000/40.000 jam pengujian : Rp. 3.000/jam Pengerjaan ulang : Rp. 60.000.000/20.000 jam pengerjaan : Rp. 3.000/jam Biaya tidak langsung masing-masing produk : Wol Pendekatan berdasarkan aktifitas, biaya masing-masing aktifitas dihitung sebagai berikut : Permesinan : Rp. 1.200/jam x 100.000 jam mesin : Rp. 120.000.000 Pengujian : Rp. 3.000/jam x 20.000 jam pengujian : Rp. 60.000.000 Pengerjaan ulang : Rp. 3.000/jam x 15.000 jam : Rp. 45.000.000 + Jumlah total biaya tidak langsung Rp. 225.000.000 Biaya tidak langsung per unit : Rp. 225.000.000 / 10.000 unit wol : Rp. 22.000 per unit. Sintesis Permesinan : Rp. 1.200/jam x 50.000 jam mesin : Rp. 60.000.000 Pengujian : Rp. 3.000/jam x 20.000 jam pengujian : Rp. 60.000.000 Pengerjaan ulang : Rp. 3.000/jam x 5.000 jam : Rp. 15.000.000 + Jumlah total biaya tidak langsung Rp. 135.000.000 Biaya tidak langsung per unit : Rp. 135.000.000 / 100.000 unit sintesis : Rp. 1.350 per unit. Sumber : Horngren, CT, Datar, SM, & Foster, G. 1991. Cost Accounting : A Managerial Emphasis. Prentice-Hall, Inc. New Jersey. Guan, L. Hansen, DR. & Mowen, MM. 2006. Cost Management. South-Western Cengage Learning. Ohio

Perbedaan Akuntansi Keuangan dengan Akuntansi Manajemen

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah Pencatatan perhitungan kekayaan mulai dibutuhkan sejak manusia mengenali arti nilai suatu barang dan alat tukar, semenjak mengenal nilai arti suatu barang, manusia melakukan tukar-menukar barang dengan memperhatikan nilai barang dan memerlukan pencatatan perhitungan harta kekayaan (Akuntansi), pencatatan terus berkembang dari waktu ke waktu sampai dengan kemajuan peradaban manusia. Pencatatan yang lebih lengkap sejalan dengan perkembangan dunia usaha muncul dikota Venesia, Italia. Seorang biarawan pakar Matematika yang bernama Lucas Paciolo pada tahun 1494. Sisitem akuntansi yang dikemukakan Lucas Paciolo yang berkembang dan mendasari sistem akuntansi yang adipakai dalam dunia usaha sekarang ini. Akuntansi Biaya Adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara tertentu serta penafsiran terhadapnya. BiayaDalam arti luas adalah pengorbanan sumber ekonomis, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam arti sempit biaya merupakan bagian daripada harga pokok yang dikorbankan di dalam usaha untuk memperoleh penghasilan. B.Rumusan Masalah Berdasarkan hal-hal uraian tersebut diatas dan untuk mengarahkan pembahasan maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1.Pengertian akuntansi 2.Pengertian akuntansi biaya 3.Pengertian akuntansi biaya dalam Arti Luas dan Sempit C. Pembatasan Masalah Dalam hal pembahasan yang di lakukan memiliki cakupan yang di batasi, maka penyusun membatasi masalah sebagai berikut 1.Pengertian akuntansi 2.Pengertian Akuntansi biaya D. Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan yang hendak dicapai dalam pembahasan makalh ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai pokok bahasan. Adapun maksud dan tujuan pembuatan makalh ini adalah: 1.Untuk mengetahui pengertian akuntansi secara umum 2.Untuk mengetahui pengertian akuntansi biaya secara umum dan lebih Luas 3.Untuk mengetahui manfaat dari akuntansi Biaya Dan agar mengetahui mengenai Akuntansi biaya lebih Mendalam BAB II PEMBAHASAN A.Pengertian Akuntansi Akuntansi sering disebut bahasa dunia usaha (Bussines language) karena di akuntansi merupakan alat komunikasi perusahaan dalam menginformasikan peristiwa ekonomi kepada yang memerkukan. Dengan melalui laporan akuntansi perusahaan dapat menyampaikan pesan kepada pihak-pihak yang ingin mengetahui posisi keuangan, dan tingkat perspektif perusahaan yang berguna untuk membantu pengan bilan keputusan. American Institut Of Certified Public Accountan (AICPA) mengemukakan bahwa akuntansi adalah seni pencatatan, pengelompokan dan pengiktisaran menurut cara yang berarti dan di nyatakan dalam nilai uang. Segala transaksi dan kejadian yang sedikitnya bersifat keuangan, kemudian ditafsirkan hasilnya. Seni di tafsirkan dari segi fisik dan kebijaksanaan. American Accouting Association (AAA) juga merumuskan bahwa akuntansi adalah proses mengidentifikasikan, mengukur dan melaporkan informasi ekonomi dalam sebuah perusahaan sehingga di mungkinkan adanya penilaian dan pengambilan keputusan bagi mereka yang menggunakan informasi. B.Fungsi dan Pengertian Akuntansi Biaya Pengertian Akuntansi Biaya Adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara tertentu serta penafsiran terhadapnya. BiayaDalam arti luas adalah pengorbanan sumber ekonomis, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam arti sempit biaya merupakan bagian daripada harga pokok yang dikorbankan di dalam usaha untuk memperoleh penghasilan. Pengertian Lain Akuntansi biaya adalah salah satu cabang akuntansi yang merupakan alat manajemen dalam memonitor dan merekam transaksi biaya secara sistematis, serta menyajikannya informasi biaya dalam bentuk laporan biaya. Biaya (cost) berbeda biaya (cost) adalah pengorbanan ekonomis yang dikeluarkan untuk memperoleh barang dan jasa, sedangkan beban (expense) adalah expired cost yaitu pengorbanan yang diperlukan atau dikeluarkan untuk merealisasi hasil, beban ini dikaitkan dengan revenue pada periode yang berjalan. Pengorbanan yang tidak ada hubungannya dengan perolehan aktiva, barang atau jasa dan juga tidak ada hubungannya dengan realisasi hasil penjualan, maka tidak digolongkan sebagai cost ataupun expense tetapi digolongkan sebagai loss. Fungsi Akuntansi Biaya yakni: a. Untuk mengukur pengorbanan nilai masukan tersebut guna menghasilkan informasi bagi pihak manajemen, apakah mendapat profit atau tidak b. Menghasilkan informasi bagi manajemen sebagai dasar untuk merencanakan alokasi sumber daya ekonomi yang dikorbankan untuk menghasilkan keluaran. Manajemen biaya : 1. Membutuhkan pengertian yang lebih mendalam tentang struktur biaya suatu perusahaan 2. Manage r harus mampu menentukan kegiata dan proses jangka pendek dan jangka panjang Informasi Manajemen Biaya Informasi yang dibutuhkan untuk mengolah secara efektif perusahaan atau organisasi non laba Informasinya mengenai: 1. Informasi keuangan = biaya dan pendapatan 3. Informasi non keuangan yang relevan (produktivitas,kualitas dan faktor-faktor kunci lainnya) Penggunaan pihak internal untuk membantu manajemen Proses pencatatan,penggolongan, peringkasan dan penyajian,serta penafsiran informasi biaya adalah tergantung untuk siapa proses tersebut ditujukaan. Proses akuntansi biaya dapat ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pemakai luar perusahaan, dalam hal ini proses akuntansi biaya dapat merupakan bagian dari akuntansi keuangan PERBEDAAN AKUNTANSI KEUANGAN DAN AKUNTANSI MANAJEMEN Persamaan : 1. Kedua tipe akuntansi tersebut merupakan sistem pengolah informasi yang menghasilkan informasi keuangan. 2. Sebagai penyedia informasi keuangan yang bermanfaat bagi seseorang untuk pengambilan keputusan Perbedaan.: Perbedaan pokok antara akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen terletak pada : a).pemakai laporan akutansi dan tujuan mereka b).lingkup informasi c).fokus informasi d).rentang waktu e).kriteria bagi informasi akuntansi f).disiplin sumber g).isi laporan h).sifat informasi Gambar berikut ini merupakan penjelasan mengenai perbedaan antara kedua tipe tersebut : Perbedaan Pokok Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen No. Keterangan Akuntansi Keuangan Akuntansi Manajemen 1. Pemakai Utama Para manajer puncak dan pi- Para manajer dari berbagai hak luar perusahaan. jenjang organisasi 2. Lingkup Perusahaan secara keselu- Bagian dari perusahaan Informasi ruhan 3. Fokus Berorientasi pada masa Berorientasi pada masa Informasi Yang lalu yang akan datang. 4. Rentang waktu Kurang fleksibel. Biasanya Fleksibel : bisa harian, minggu Mencakup jangka waktu ku- an, bulanan, bahkan bisa 10 Artalan, tengah tahun, th-an tahunan. 5. Kriteria bagi Dibatasi oleh prinsip akunt- Tidak ada batasan, kecuali Informasi Akun- Ansi yang lazim manfaat yang dapat dipero- Tansi. leh oleh manaj dari informasi dibandingkan dg pengorban an untuk memperoleh informa si tersebut. 6. Disiplin Sumber Ilmu Ekonomi Ilmu Ekonomi dan Psikologi Sosial 7. Isi Laporan Laporan berupa ringkasan Laporan bersifat rinci menge- Mengenai perusahaan seba- nai bagian dari perusahaan. Gai keseluruhan. 8. Sifat Informasi Ketepatan informasi merupa- Unsur taksiran dalam infor- Kan hal yg penting Masi adalah besar. Proses akuntansi biaya dapat di tunjukan pula untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam perusahaan. Dengan demikian akuntansi biaya harus memperhatikan karakteristik Akuntansi manajemen . Akuntansi biaya mempunyai tiga tujuan pokok yakni : penentuan harga pokok produk, pengendalian biaya, dan penganbilan keputusan khusus. Untuk memenuhi tujuan penentuan harga pokok produk, akuntansi biaya mencatat penggolongan dan meringkas biaya-biaya pembuatan produk atau penyerahan jasa. Biaya yang dikumpulkan dan disajikan adalah biaya untuk menentukan harga pokok produk ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pihak luar perusahaan. Oleh karena itu, untuk melayani kebutuhan pihak luar tersebut, akuntansi biaya untuk penentuan harga produk tunduk pada prinsip-prinsip akuntansiyang lazim. Di samping itu, penentuan harga pokok produk untuk memenuhi kebutuhan tersebut dilayani oleh akuntansi manajemen yang tidak selalu terikat dengan prinsip akuntansi yang lazim. Misalnya, metode variable costing untuk penentuan harga pokok produk dan penyajian informasi biaya untuk memenuhi kebutuhan manajemen dalam perencanaan dan penganbilan keputusan jangka pendek. Pengendalian biaya harus didahului dengan penentuan biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk memeproduksi satu-satunya produk. Jika biaya yang seharusnya ini telah ditetapkan, akuntansi biaya bertugas untuk memantau apakah pengeluaran biaya yang sesungguhnya sesuai dengan biaya yang seharusnya tersebut. Akuntansi biaya kemudian melakukan analisis terhadap penyimpana biaya sesungguhnya dengan biaya yang seharusnya dan menyajiakan informasi mengenai penyebab terjadinya selisih tersebut. Dari analisis penyimpangan dan penyebabnya tersebut manajemen akan dapat mempertimbangkan tindakan koreksi, jika hal ini perlu dilakukan. Dari analisis ini juga manajemen puncak akan dapat mengadakan penilaian prestasi para manager dibawahnya. Akunta si biaya untuk tujuanpengendalian biaya ini lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pihak dalam perusahaan. Aspek prilaku manusia dalam akuntansi biaya untuk tujuan pengendalian biaya adalah besar. Dengan demikian akuntansi biaya untuk tujuan pengendalian biaya merupakan bagian dari akuntansi manajemen. Lihat sistem biaya standar, baik dengan metode full costing (Bab 13 sistem biaya standar – metode variable costing) pengambilan keputusan khusus menyangkut masa yang akan datang. Oleh karena itu informasi yang relevan dengan pengambilan keputusan khusus menyajikan biaya masa yang akan datang (future costs). Informasi biaya ini tidak dicatat dalam catatan akuntansi biaya, melainkan hasil dari suatu proses peramalan. Karena keputusan khusus merupakan sebagian besar kegiatan manajemen perusahaan, Laporan akuntansi biaya untuk memenuhi tujuan penganbilan keputusan adalah bagian dari akuntansi manajemen. Untuk memenuhi bagian dari kebutuhan manajemen dalam pengambilan keputusan, akuntansi biaya mengembangkan berbagai konsep informasi biaya untuk pengambilan keputusan, seperti, biaya kesempatan (Ooportunity cost), biaya Hipotetis (hypothical cost), biaya tambahan (Incremental cost), biaya terhindarkan (avoidable cost), dan pendapatan yang hilang (Forgone revenue). C. Manfaat Akuntansi Biaya Tujuan atau manfaat akuntansi biaya adalah menyediakan salah satu informasi yang diperlukan oleh manajemen dalam mengelola perusahaan, yaitu untuk: 1. Perencanaan dan Pengendalian Laba. Akuntansi biaya menyediakan informasi atau data biaya masa lalu yang diperlukan untuk menyusun perencanaan, dan selanjutnya atas dasar perencanaan tersebut, biaya dapat dikendalikan dan akhirnya pengendalian dapat dipakai sebagai umpan balik untuk perbaikan dimasa yang akan datang. 2. Penentuan Harga Pokok Produk atau Jasa. Penetapan harga pokok akan dapat membantu dalam : (a) penilaian persediaan baik persediaan barang jadi maupun barang dalam proses, (b) penetapan harga jual terutama harga jual yang didasarkan kontrak, walaupun tidak selamanya penentuan harga jual berdasarkan harga pokok, (c) penetapan laba. 3. Pengambilan Keputusan oleh Manajemen. 4. Untuk menghasilkan manfaat dimasa depan Tujuan Akuntansi Biaya Yakni untuk menyediakan informasi biaya bagi kepentingan manajemen guna membantu mereka di dalam mengelola perusahaan atau bagiannya. D. Klasifikasi Biaya Akuntansi biaya bertujuan untuk menyajikan informasi biaya yang digunakan untuk berbagai tujuan, sehingga penggolongan biaya juga didasarkan atas disesuaikan dengan tujuan tersebut. Klasifikasi Biaya (Penggolongan Biaya) Biaya dapat digolongkan menjadi beberapa golongan atas dasar, yakni sebagai berikut : 1.Obyek Pengeluaran 2.Fungsi-Fungsi Pokok Perusahaan. 3.Hubungan Biaya dengan Sesuatu yang Dibiayai. 4.Atas Dasar Tingkah Lakunya terhadap Perubahan Volume Kegiatan. 5.Jangka Waktu Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menggolongkan biaya diantaranya : 1. Berdasarkan Fungsi Pokok Perusahaan a. Factory Cost (Biaya Produksi) 1. Biaya Bahan Baku (Direct Material Cost) 2. Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost) 3. Biaya Tidak Langsung (Factory Overhead) b. Commercial Expense (Operating Expense) 1. Marketing and Selling Expense 2. General & Administration Expense 2. Berdasarkan Periode Akuntansi a. Capital Expenditure (Pengeluaran Modal). Pengeluaran ini akan memberi manfaat pada beberapa periode akuntansi. Jenis pengeluaran ini dikapitalisir dan dicantumkan sebagai harga perolehan. Suatu pengeluaran dikelompokkan sebagai capital expenditure jika pengeluaran ini memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi, jumlahnya relatif besar, dan pengeluaran ini sifatnya tidak rutin. b. Revenue Expenditure (Pengeluaran Penghasilan). Pengeluaran ini akan memberi manfaat pada periode akuntansi dimana pengeluaran ini terjadi. Pengeluaran ini menjadi beban pada periode tersebut, dan dicantumkan dalam income statement. Suatu pengeluaran dikelompokkan sebagai revenue expenditure jika pengeluaran tersebut memberi manfaat pada periode terjadinya pengeluaran tersebut, jumlahnya relatif kecil, dan umumnya pengeluaran ini sifatnya rutin. 3. Berdasarkan Pengaruh Manajemen Terhadap Biaya a. Biaya Terkendali (Controllable Cost). Adalah biaya yang secara langsung dapat dipengaruhi oleh seorang manajer tingkatan tertentu dalam jangka waktu tertentu. b. Biaya Tidak Terkendali (Uncontrollable Cost). Adalah biaya yang tidak dapat dipengaruhi oleh seorang manajer atau pejabat tingkatan tertentu. 4. Karakteristik Biaya Dihubungkan Dengan Keluarannya a. Biaya Engineered. Adalah elemen biaya yang mempunyai hubungan phisik yang eksplisit dengan output. b. Biaya Discretionary. Biaya ini disebut juga managed cost atau programmed cost adalah semua biaya yang tidak mempunyai hubungan yang akurat dengan output. c. Biaya Commited atau biaya kapasitas. Adalah semua biaya yang terjadi dalam rangka untuk mempertahankan kapasitas atau kemampuan organisasi dalam kegiatan produksi, pemasaran dan administrasi. 5. Pengaruh Perubahan Volume Kegiatan Terhadap Biaya a. Biaya Tetap. Yaitu biaya yang jumlah tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan sampai pada tingkatan tertentu. Biaya tetap perunit berubah berbanding terbalik dengan perubahan volume kegiatan. b. Biaya Variabel. Biaya variabel mengasumsikan hubungan linear antara biaya aktifitas tersebut. Biaya variabel yaitu biaya yang jumlah totalnya berubah secara sebanding dengan perubahan volume kegiatan, semakin besar volume kegiatan maka semakin besar pula jumlah total biaya variabel. c. Biaya Semi Variabel. Yaitu biaya dimana jumlah totalnya berubah sesuai dengan perubahan volume kegiatan, akan tetapi sifat perubahannya tidak sebanding/proporsional. 6. Berdasarkan Objek yang dibiayainya a. Biaya Langsung. Biaya yang terjadi atau manfaatnya dapat diidentifikasi kepada objek atau pusat biaya tertentu. b. Biaya Tidak Langsung. Biaya yang terjadi atau manfaatnya tidak dapat diidentifikasi pada objek atau pusat biaya tertentu, atau biaya yang manfaatnya dinikmati oleh beberapa objek atau pusat biaya. E. Sistem Akuntansi Biaya Sistem akuntansi biaya (cost system) dapat dikelompokkan menjadi dua sistem yaitu : 1. Actual Cost System (Sistem Harga Pokok Sesungguhnya). Yaitu sistem pembebanan harga pokok kepada produk atau pesanan yang dihasilkan sesuai dengan harga pokok yang sesungguhnya dinikmati. Pada sistem ini, harga pokok produksi baru dapat dihitung pada akhir periode setelah biaya sesungguhnya dikumpulkan. 2. Standard Cost System (Sistem Harga Pokok Standar). Yaitu sistem pembebanan harga pokok kepada produk atau pesanan yang dihasilkan sebesar harga pokok yang telah ditentukan/ditaksir sebelum suatu produk atau pesanan dikerjakan. ABC (Activity Based Cost) System Diuji coba pada awal dekade 1990-an di USA F. Sistem Pengumpulan Harga Pokok 1. Job Order Cost. Yaitu suatu metode pengumpulan harga pokok produk yang dikumpulkan untuk setiap pesanan atau kontrak. Jadi setiap ada pesanan mempunyai harga pokok tersendiri yang dibuat dalam job cost sheet. Pada metode ini, produksi dilakukan untuk memenuhi pesanan pelanggan. 2. Process Cost. Yaitu metode pengumpulan harga pokok produk dimana biaya dikumpulkan untuk setiap satuan waktu. Pada metode ini, proses produksi diperusahaan dilaksanakan secara terus menerus, barang yang dihasilkan homogen, dan perhitungan harga pokok produksi didasarkan atas waktu. Pada metode ini, produksi dilakukan untuk memenuhi stock. G. Manfaat Biaya Perunit. 1. Perusahaan Munafaktur Sistem akuntansi biaya memiliki tujuan pengukuran dan pembebanan biaya sehingga biaya perunit dari suatu produk dapat ditentukan. Informasi biaya perunit adalah sangat penting bagi perusahaan manufaktur untuk penilaian persediaan, penentuan laba, dan pengambilan keputusan lainnya. Pengungkapan biaya persediaan dan penentuan laba adalah kebutuhan pelaporan keuangan yang dihadapi setiap perusahaan pada setiap akhir periode. Untuk menentukan biaya perunit, maka total biaya yang digunakan tergantung tujuan informasi tersebut. Perusahaan dapat menggunakan biaya produksi, atau biaya variabel, atau biaya produksi ditambah biaya non produksi. Untuk pembuatan laporan keuangan untuk pihak eksternal, maka informasi biaya perunit diperoleh dari total biaya produksi, sedangkan untuk pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak pesanan khusus, dalam kondisi perusahaan beroperasi dibawah kapasitas produksi, maka informasi biaya yang dibutuhkan adalah informasi biaya variabel. Perusahaan munafaktur, Pada umumnya Akuntansi biaya yang dibahas dalam mata kuliah ini adalah yang diterapkan dalam perusahaan manufaktur. Alasannya lebih kompleks apabila dibandingkan dg perusahaan lain. Kegiatan pokok perusahaan manufaktur yakni mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Fungsi pokok dalam perusahaan manufaktur a. Fungsi produksi b. Fungsi pemasaran c. Fungsi administrasi dan umum. Berdasarkan fungsi di atas, maka dalam perusahaan manufaktur dapat dibagi menjadi : Biaya produksi, biaya pemasaran dan biaya administrasi & umum. YakniPerusahaan Manufaktur Perusahaan yang kegiatannya mengolah bahan baku menjadi produk jadi dan melakukan penjualan produk tersebut kepada konsumen atau perusahaan manufaktur lain. Kegiatan pengolahan bahan baku, menjadi produk jadi memer- lukan 3 kelompok pengorbanan sumber ekonomi, yakni : (1) Pengorbanan bahan baku (2) Pengorbanan jasa tenaga kerja,dan (3) Pengorbanan jasa fasilitas. Dalam pemasaran produk jadi, juga memerlukan pengorbanan sumber ekonomi, yakni : (1) Biaya produksi : terdiri biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. (2) Biaya pemasaran (3) Biaya administrasi dan umum. PerusahaanPerusahaan dagang yang kegiatannya membeli barang dagangan dari perusahaan lain dan melakukan penjualan barang tersebut kepada konsumen atau perusahaan manufaktur. Untuk mendapatkan barang dagangan, perusahaan dagang mengeluarkan biaya, yang dalam laporan laba rugi dikelompok kan menjadi 3 golongan yakni : (1) Harga pokok penjualan (2) Biaya pemasaran Biaya administrasi dan umum 2. Perusahaan Jasa Perusahaan jasa juga memerlukan informasi biaya perunit. Pada dasarnya untuk menghitung biaya perunit antara perusahaan jasa maupun perusahaan manufaktur adalah sama. Pertama sekali, perusahaan jasa yang disediakan dan mengidentifikasi total biaya untuk unit jasa yang disediakan. Perusahaan jasa maupun perusahaan manufaktur menggunakan data biaya dengan tujuan yang sama, yaitu untuk menentukan profitabilitas, kelayakan untuk memperkenalkan layanan baru, membuat keputusan harga jual dan lainnya, hanya perusahaan jasa tidak memerlukan data biaya untuk menentukan nilai persediaan, karena jasa tidak menghasilkan produk fisik. H. Kalkulasi Biaya Produk Tradisional Kalkulasi biaya produk tradisional hanya membebankan biaya produksi pada produk. Pembebanan biaya utama keproduk tidak memiliki kesulitan, karena dapat menggunakan penelusuran langsung atau penelusuran penggerak yang sangat akurat. Tetapi sebaliknya, biaya overhead memiliki masalah dalam pembebanan biaya ke produk, karena hubungan antara masukan dan keluaran tidak dapat diobservasi secara fisik. Dalam sistem biaya tradisional, untuk membebankan biaya ke produk digunakan penggerak aktifitas tingkat unit (unit level drivers), karena ini merupakan faktor yang menyebabkan perubahan biaya sebagai akibat perubahan unit yang diproduksi. Contoh penggerak tingkat unit yang secara umum digunakan untuk membebankan overhead meliputi : 1. Unit yang diproduksi 2. Jam tenaga kerja langsung 3. Tenaga kerja langsung (rupiah) 4. Jam mesin 5. Bahan langsung Setelah mengidentifikasi penggerak (driver) tingkat unit, lalu memprediksi tingkat keluaran aktifitas yang diukur oleh penggerak tersebut, yaitu apakah berdasarkan aktifitas aktual yang diharapkan (expected activity level) dan aktifitas normal (normal activity level). Expected activity level adalah output aktivitas yang diharapkan dicapai oleh perusahaan pada tahun yang akan datang, sedangkan normal activity level adalah output aktivitas rata-rata yang merupakan pengalaman perusahaan dalam jangka panjang. Aktivitas normal mempunyai keunggulan berupa penggunaan tingkat aktifitas yang sama dari tahun ketahun, sehingga pembebanan overhead ke produk tidak begitu berfluktuasi. I. Keterbatasan Sistem Akuntansi Biaya Tarif pabrik menyeluruh dan tarif departemental telah digunakan beberapa dekade dan terus digunakan secara sukses. Namun pada beberapa situasi tarif tersebut menimbulkan distorsi yang dapat membuat stress perusahaan yang berproduksi dalam lingkungan produksi canggih (advanced manufacturing environment). Gejala-gejala dari sistem biaya yang ketinggalan jaman diantaranya sebagai berikut : 1. Hasil dari penawaran sulit dijelaskan 2. Harga pesaing nampak lebih rendah sehingga kelihatan tidak masuk akal. 3. Produk-produk yang sulit diproduksi menunjukkan laba yang tinggi. 4. Manajer operasional ingin menghentikan produk-produk yang kelihatan menguntungkan. 5. Marjin laba sulit dijelaskan 6. Pelanggan tidak mengeluh atas biaya naiknya harga 7. Departemen akuntansi menghabiskan banyak waktu untuk memberi data biaya bagi proyek khusus. 8. Biaya produk berubah karena perubahan peraturan pelaporan PENUTUP KESIMPULAN 1. Pengertian dan Tujuan Akuntansi Biaya Pengertian Akuntansi Biaya Adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara tertentu serta penafsiran terhadapnya. BiayaDalam arti luas adalah pengorbanan sumber ekonomis, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam arti sempit biaya merupakan bagian daripada harga pokok yang dikorbankan di dalam usaha untuk memperoleh penghasilan. Tujuan Akuntansi Biaya Yakni untuk menyediakan informasi biaya bagi kepentingan manajemen guna membantu mereka di dalam mengelola perusahaan atau bagiannya. Perusahaan munafaktur, Pada umumnya Akuntansi biaya yang dibahas dalam mata kuliah ini adalah yang diterapkan dalam perusahaan manufaktur. Alasannya lebih kompleks apabila dibandingkan dg perusahaan lain. Kegiatan pokok perusahaan manufaktur yakni mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Fungsi pokok dalam perusahaan manufaktur a. Fungsi produksi b. Fungsi pemasaran c. Fungsi administrasi dan umum. Berdasarka¬n fungsi di atas, maka dalam perusahaan manufaktur dapat dibagi menjadi : Biaya produksi, biaya pemasaran dan biaya administrasi & umum. 2. Klasifikasi Biaya (Penggolongan Biaya) Biaya dapat digolongkan menjadi beberapa golongan atas dasar, yakni sebagai berikut : 1.Obyek Pengeluaran 2.Fungsi-Fungsi Pokok Perusahaan. 3.Hubungan Biaya dengan Sesuatu yang Dibiayai. 4.Atas Dasar Tingkah Lakunya terhadap Perubahan Volume Kegiatan. 5.Jangka Waktu 3. Metode Pengumpulan Biaya Produksi. Pengumpulan harga pokok produksi dapat ditentukan oleh cara produksi, yakni : a) Produksi atas dasar pesanan dan b) Produksi massa. Perusahaan yang berproduksi berdasar pesanan menggunakan metode harga pokok pesanan (job order cost method) . Sedangkan perusahaan yang berproduksi massa, mengumpulkan harga pokok produksi dengan menggunakan metode harga pokok proses (proses cost method). 4. Metode Penentuan Harga Pokok Produksi Yakni merupakan cara memperhitungkan unsure-unsur biaya ke dalam harga pokok produksi. Ada dua pendekatan, : (1) Full Costing dan (2) Variable Costing. Full Costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsure biaya produksi ked ala harga pokok produksi baik yang bersifat variabel maupun tetap. Variable Costing yakni Metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel ke dalam harga pokok produksi. 5. Perbandingan Laporan Laba Rugi Perusahaan Manufaktur dengan Laporan Laba Rugi Perusaha- an Dagang. PerusahaanPerusahaan dagang yang kegiatannya membeli barang dagangan dari perusahaan lain dan melakukan penjualan barang tersebut kepada konsumen atau perusahaan manufaktur. Untuk mendapatkan barang dagangan, perusahaan dagang mengeluarkan biaya, yang dalam laporan laba rugi dikelompok kan menjadi 3 golongan yakni : (3) Harga pokok penjualan (4) Biaya pemasaran (5) Biaya administrasi dan umum YakniPerusahaan Manufaktur Perusahaan yang kegiatannya mengolah bahan baku menjadi produk jadi dan melakukan penjualan produk tersebut kepada konsumen atau perusahaan manufaktur lain. Kegiatan pengolahan bahan baku, menjadi produk jadi memer- lukan 3 kelompok pengorbanan sumber ekonomi, yakni : (4) Pengorbanan bahan baku (5) Pengorbanan jasa tenaga kerja,dan (6) Pengorbanan jasa fasilitas. Dalam pemasaran produk jadi, juga memerlukan pengorbanan sumber ekonomi, yakni : (4) Biaya produksi : terdiri biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. (5) Biaya pemasaran (6) Biaya administrasi dan umum. DAFTAR PUSTAKA 1. Mulyadi, 2002. Akuntansi Biaya, Yogyakarta: Aditya Media 2. Mulyadi, Akuntansi Biaya, Yogyakarta : BPFE Yogyakarta 2008 3. Erlina, SE : fungsi dan pengertian akutansi biaya Fakultas Ekonomi universitas sumatra utara. 4. Soemarso S.R Akuntansi suatu pengantar I dan II Edisi kedua, Jakarta: Lenbaga penerbit FEUI

Selasa, 07 Januari 2014

Siapakah Bhikkhu Uttamo?

Bhikkhu Uttamo, atau yang biasa dipanggil Bhante Uttamo adalah salah seorang Bhikkhu Sangha Theravada Indonesia (STI) yang sangat aktif dalam memberikan ceramah Dhamma pada setiap kesempatan. Ia dikenal dengan gaya ceramahnya yang menarik, penuh humor, dan dengan pilihan kata yang mudah dicerna. Pendidikan, Bhikkhu Uttamo merupakan lulusan IKIP Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 1985.[2] Kehidupan religious, Bhikkhu Uttamo ditahbiskan sebagai Samanera (Pabbajja Samanera) di Jakarta pada Tanggal 21 Juli 1985 dan ditahbiskan sebagai Bhikkhu (Upasampada Bhikkhu) di Bangkok pada Tanggal 27 Desember 1986. Pelayanan, Riwayat keorganisasian yang pernah diikuti Bhikkhu Uttamo adalah sebagai berikut: 1995 – 1999 : Ketua Bhikkhu Daerah Pembinaan Propinsi Sulawesi Selatan 1995 – 1999 : Ketua Bhikkhu Daerah Pembinaan Propinsi Irian Jaya 1996 – 1999 : Kepala Biro Pendidikan dan Pengembangan Sangha Theravada Indonesia 1998 – 1999 : Kepala Biro Penelitian / Penyeleksian Sangha Theravada Indonesia 2000 – 2003 : Wakil Ketua Umum Sangha Theravada Indonesia 2003 – 2006 : Wakil Ketua Bidang Vinaya Sangha Theravada Indonesia 1989 – sekarang : Kepala Vihara Samaggi Jaya Blitar, Jawa Timur 1990 – sekarang : Kepala Vihara Bodhigiri Balerejo, Kab. Blitar, Jawa Timur Karya, Daftar buku yang ditulis oleh Bhikkhu Uttamo: 1. Agama Buddha Pedoman Hidupku (2005)

Alasan Bhikkhu Uttamo Memilih Agama Buddha

Dan memang kalo di ceritakan, dulu sih saya memang bukan Buddhis, sejak di dalam kandungan bukan Buddhis. Turunan saya, eh maksud saya atasan saya kalo turunan kan di bawah saya, saya ga ada bawahnya, isteri, anak. Tapi atasan saya maksud saya orang tua, kemudian saudara-saudara dari ayah, saudara-saudara dari ibu memang tidak ada yang Buddhis. Sehingga ketika saya belajar agama Buddha, orang-orang juga heran dengan saya, kok bisa? Padahal lingkungannya juga bukan Buddhis. Apa sebetulnya yang memotivasi seseorang belajar agama Buddha, khususnya saya? Sebenarnya karena berdasarkan sebuah pertanyaan yang umum sekali yaitu kalo memang manusia ini ada yang mencipta, yang membuat, yang mengadakan, kenapa kok lain-lain? Kenapa ada orang yang di buat, hidupnya bahagia sekali? Kenapa ada orang yang di buat, sejak lahir terkondisi di tempat yang menderita sekali? Kenapa ada orang yang di buat, sejak kecil pandai sampai tua? Kenapa ada orang yang di buat, sejak kecil idoit terus, sampai tua pun tetap idiot? Ini membuat sebuah pertanyaan buat saya. Kemudian, saya mencoba mempelajari berbagai agama yang ada di masyarakat, jawabnya selalu rahasia, apapun pertanyaannya jawabnya selalu rahasia. Nah saya ini kurang suka rahasia. Kalo agama saja yang berisi tentang kebenaran saja di rahasiakan, apalagi yang berisi tentang kejahatan, pasti lebih rahasia lagi, ya kan? Kan pertemuan-pertemuan terbuka seperti ini, pasti karena isinya yang baik-baik, coba kalo kita berdiskusi tentang yang jahat-jahat saya kira ga akan di tempat terbuka seperti ini, dan bisik-bisik lagi. Nah oleh karena itu saya melihat ini kalo rahasia-rahasia terus kok rasanya kurang sesuai yah, kemudian saya mencoba “Ah, cobalah saya belajar agama Buddha.” Dulu waktu SMA, teman saya ada satu yang Buddhis, dia memakai kalung yang besar-besar, sekarang saya mengerti nampaknya dia dulu di kasih kalung sama bhikkhu A di tempel, bhikkhu B kasih lagi ke dia di tempel lagi, jadi banyak kalungnya, saya melihatnya udah seperti dukun. Saya kalo mendengar dia cerita macam-macam mengenai agama Buddha, saya dulunya ga begitu berminat, waktu SMA itu. Tapi kemudian setelah masuk perguruan tinggi, waktu itu tahun 1980, jadi saya kenal agama Buddha belum lama, mungkin para bapak dan ibu jauh lebih lama kenal agama Buddha daripada saya. Saya bisa mengenal agama Buddha karena saya bertanya dengan seorang pandita di sebuah kelenteng di Yogyakarta, inilah pertanyaan saya kepada pandita itu. * Kenapa manusia itu lain-lain? Pandita itu menjawab : Karena kita lahir bukan sekali saja, orang yang pandai di zaman ini, itu karena dia dulunya sudah suka membagikan kemampuan pikirannya, dia punya inisiatif untuk melakukan suatu kebaikan, dia selalu menggunakan otaknya untuk kebaikan orang lain manfaatkan untuk kebahagiaan lingkungannya, maka dia menjadi orang pandai. Kenapa jadi orang bodoh? Karena di kehidupannya yang lampau dia suka cuek-cuek, kalo di tanya “Ini kenapa begini? Jawabnya ga usah di pikirin.” lama-lama karena sering berkata ga usah di pikirin, otaknya ga pernah di pakai, begitu meninggal kemudian lahir kembali dia menjadi bodoh sungguhan. * Kenapa ya kok ada orang yang sejak lahir kakinya ga ada? Karena dulu dia suka meniadakan kakinya mahluk lain, contohnya jangkrik kakinya di copotin. Karena sering meniadakan kaki mahluk lain, makanya sekarang dia tidak memiliki kaki. Kenapa juga ada yang terlahir memiliki kaki tambahan dua di perut? Karena kadang ada yang suka iseng, jangkrik kakinya di copotin, terus buat di tempel di jangkrik yang lain, untuk main-main atau eksperimen. Kemudian pertanyaan itu terus saya tanya macam-macam dan ada jawabnya semua. * Bagaimana membuktikan kalo ada kehidupan yang dulu? Karena kalo ga bisa membuktikan, yah itu nanti nya cuma jadi rahasia lagi. Nah biasanya buktinya dengan meditasi, terus orang meditasi tapi ga dapat apa-apa, ga ketemu kehidupan yang dulu itu. Nah, orang yang saya tanya itu kemudian mengeluarkan beberapa laporan jurnal kesehatan dari Eropa. Dia mengatakan ini loh buktinya, dokter-dokter yang bukan Buddhis itu menggunakan hipnosis, menghipnosis seseorang kemudian orang ini bisa di tanyain, kamu inget ga dulu waktu masih kecil? Kamu inget ga dulu waktu masih bayi? Kamu inget ga dulu sebelum di lahirkan? dan seterusnya, akhirnya terbukti mereka yang dulunya menyiksa mahluk, sekarang hidupnya juga kurang bagus. Mereka yang dulu hidupnya selalu berbuat baik, sekarang hidupnya bahagia. Nah itu yang pertama kali membuat saya berpikir, “Eh, ternyata Agama Buddha itu bisa di buktikan, bukan isinya rahasia, kalo demikian saya ingin belajar.” Ternyata di dalam Dhamma ini, apa saja bisa menjadi pelajaran. Saya berangkat dari muka yang beda-beda, kenapa? Karena saya melihat di dalam kehidupan saya, waktu sekolah selalu di suruh belajar biar pinter, semua anak di suruh belajar biar pinter. Jadi kalo nanti dirinya tidak pinter di kelas, itu kemudian nengok ke kanan, nengok ke kiri, kenapa kok yah aku ga pinter? Ini kan terjadi perbedaan awal. Ketika saya kecil saya seperti itu. Kenapa saya belajar ngotot, belajar mati-matian tetap ga pinter-pinter? Teman saya yang santai-santai, baca komik, kok lebih pinter? Nah itu yang membuat dasar pertama kenapa manusia beda. Tapi tentu banyak orang mempunyai pandangan yang berbeda tentang Dhamma. Maksudnya mengenal Dhamma itu tidak harus dari perbedaan. Ada suatu ketika, orang yang anti Buddhis, dulu sebenarnya saya juga anti Buddhis tapi itu sudah cerita lama, sekarang saya cerita tentang orang lain yang anti Buddhis, dia datang ke vihara untuk menunjukkan anti Buddhisnya. * Anti Buddhis : “Bapak Bhikkhu, saya itu orang yang tidak suka agama Buddha.” * Saya (Bhante Uttamo) : “Loh ngapain kamu ke vihara kalo kamu tidak suka?” * Anti Buddhis : “Karena saya kasian sama bapak bhikkhu, saya kepingin bapak bhikkhu jangan jadi bhikkhu, juga jangan jadi Buddhis, saya kasian saya mao menyelamatkan bapak bhikkhu.” * Saya : “Oh, Terima kasih.” “Kalo kita ketemu orang yang berniat baik, kita harus mengucapkan terima kasih.” * Lalu Saya bertanya, “Kenapa kamu kok kepingin menyelamatkan saya?” * Anti Buddhis : ” Karena saya melihat umat Buddha itu senang patung-patung, berhala.” * Lalu saya jawab : “Patung di dalam agama Buddha, bukan di jadikan tempat permintaan. Kalo orang bisa minta selamat kepada patung, saya yakin patungnya sewaktu sedang gempa, dia bisa lompat, pasti dia bisa menyelamatkan dirinya dulu, sebelum dia menyelamatkan orang lain.” Umat Buddha tidak menganggap patung sebagai tempat permintaan, kalo patung bisa bikin umat Buddha kaya, saya yakin ketika umat Buddha sembahyang terus kaya, tidak ada umat Buddha yang kerja, sembahyang terus di depan patung, terus duitnya jatuh di depannya. Waduh, saya kira ini patung mengalahkan percetakan uang negara. Tidak, kita umat Buddha tidak begitu. Terus, itu ada yang sembahyang minta obat, wah ini patung bisa sekolah kedokteran nampaknya, orang sakit sembahyang sembuh, ga perlu ke rumah sakit. Saya katakan, bukan demikian. Umat Buddha melihat patung Buddha itu sebagai lambang, lambang apa ini? Lambang semangat hidup. Pangeran Siddharta dari India, anak raja, meninggalkan istana untuk mencapai cita-citanya. Setiap orang pasti punya cita-cita, setiap orang pasti punya keinginan, dan untuk mencapai keinginan itu, dia membutuhkan perjuangan. Pangeran Siddharta meninggalkan istana untuk mencapai cita-citanya, dia butuh 6 tahun lamanya. 6 tahun berusaha, 6 tahun berjuang keras dengan mati-matian, dan akhirnya tercapai kesucian. Itu kalo umat Buddha melihat patung Buddha, apa yang dia inginkan dia melihat itu sebagai contoh, kalo saya punya keinginan mao usahanya lancar, mao punya pasangan hidup, mao punya apa saja misalnya, saya melihat patung Buddha itu, wah kok sulit yah kerja kok ga sukses-sukses yah, “Yah Pangeran Siddharta saja 6 tahun berani berjuang, apalagi saya, harus berjuang. Berjuang.” Jadi begitu lihat patung Buddha, semangat yang loyo-loyo itu akhirnya bangkit, aku harus berjuang. Itu sebetulnya patung Buddha. Jadi kalo orang yang sakit sembahyang, itu bukan minta obat, loh saya harus berjuang untuk menemukan dokter yang hebat, kemana saja saya harus berusaha, jangan sampe terus saya meminta pada patung supaya sembuh, tetapi saya berjuang, kenapa? Karena Pangeran Siddharta saja berani meninggalkan istana, berani meninggalkan kesenangan, untuk mencapai keberhasilan. Nah orang sakit meninggalkan kesenangan itu seperti apa? Yah di suntik sana, suntik sini, di periksa sana, di periksa sini, yah sudah untuk mencapai hasil yaitu Kesembuhan. Pada saat kita mengalami kesulitan di dalam pekerjaan, kita melihat patung Buddha, bukan sembahyang minta rejeki, sehingga loh kok saya sudah sembahyang habis-habisan, dupanya sudah banyak, kok duitnya ga keluar-keluar di meja sembahyang ini, malah tikus yang dateng, kecoa lagi, cicak lah. Bukan seperti itu, tapi kita harus berpikir, “Loh Pangeran Siddharta saja 6 tahun berani berjuang meninggalkan kebahagiaan yang di istana.” Berarti kalo saya mau sukses dalam pekerjaan, saya juga harus meninggalkan kesenangan saya, kencangkan ikat pinggang, terus kerja, berjuang dan berjuang, pasti sukses. Nah ini sebetulnya patung Buddha sebagai lambang. “Lah terus ngapain pake dupa? Itu kan pekerjaannya dukun, karena saya kalo pergi ke dukun”, ini kata-kata si anti Buddhis tadi, setelah saya menerangkan patung Buddha dia mengerti, lalu dia mencoba yang lain, “Lah itu apa gunanya dupa? Dupa itu kan jelas pekerjaannya demit, pekerjaannya setan, pekerjaannya iblis.” Saya katakan, umat Buddha pake dupa itu juga punya lambang, bahwa seperti dupa yang wangi, umat Buddha itu harus melihat tindakannya dia, mampu ga dia setelah memasang dupa wangi yang harumnya semerbak keseluruh ruangan itu, mampu ga dirinya itu mewangikan lingkungannya? Dupanya tiga batang, karena ini mewakili Pikiran, Ucapan dan Perbuatan. Jadi ketika seorang umat Buddha memasang dupa tiga, itu artinya mampu ga pikiran, ucapan dan perbuatan saya di arahkan untuk mewangikan ruangan? Mewangikan lingkungan saya, jadi kepada orang tua selalu mewangikan dengan pikiran yang baik, ucapan yang baik dan perbuatan yang baik, kepada teman juga demikian, kepada teman kerja, bahkan kepada musuh sekalipun begitu, karena asapnya dupa itu tidak milih musuh. Jadi tadi kan kamu yang anti Buddhis, waktu saya pasang dupa, itu tidak asapnya waktu melihat hidungmu, oh ini anti Buddhis yah terus dia belok, cari yang lain, tidak! Kamu anti Buddhis tetep hidung kamu di masukkan wangi dupa, saya yang Buddhis tetep masuk wangi dupa, dan dupanya tidak milih, “Oh ini Bhikkhu nih, masuknya lebih banyak dupanya, biar berkat katanya, terus kepada yang anti Buddhis di belokkan, tidak seperti itu!” Asap dupa itu kemana saja sama masuknya, artinya ketika umat Buddha sembahyang, itu kemudian berpikir, “Apakah pikiran saya, ucapan saya, dan perbuatan saya bisa tidak membedakan, kebajikannya ini baik kepada mereka saudara kita, keluarga kita, teman kita, orang yang tak di kenal, bahkan musuh kita. Tidak akan kita bedakan kebajikannya.” Nah itulah dupa. Lah itu kembang-kembang, itu kan juga kerjaannya demit, dukun. Salah! Kembang itu menunjukkan waktu. Bahwa kebajikan kita itu ada umurnya. Hari ini kembangnya bagus, yah ini di meja kembangnya sungguhan, biasa saya kalo ceramah kembangnya karet, kembangnya plastik, tapi kalo ini asli. Kembang yang asli ini mekar indah, tapi besok layu di buang, artinya ini ada umur. Ketika dia bagus, ketika dia mekar indah dia di letakkan di tempat yang bagus, demikian pula diri kita. Ketika diri kita masih indah, ketika diri kita masih kuat, ketika diri kita masih sehat, pikiran, ucapan dan perbuatan kita berikan yang terbaik kepada lingkungan kita siapapun juga. Karena begitu kita seperti bunga yang layu, langsung kita ga bisa apa-apa di tempat tidur, langsung nafas juga lupa, kita cuma di buang, ya kan? Anda sudah pernah bertemu dengan orang yang tak bermanfaat? Nafas saja sudah tidak ada, kan juga sudah tidak di simpan, di buang, sama dengan bunga di buang. Demikian pula seseorang yang sudah tidak ada nafas, sudah meninggal juga demikian, maka ketika kita meninggal dunia kita sudah tidak ada artinya lagi, kita akan di buang. Nah mumpung masih segar, mumpung masih sehat, ketika kita melihat bunga di altar, mumpung masih segar, mumpung masih sehat, mumpung masih kuat, ayo isi pikiran dengan yang baik, ucapan baik dan perilaku baik. Nah akhirnya orang yang anti Buddhis itu mulai tau, “Eh, ternyata agama Buddha ini altarnya bukan sembahyang setan Altarnya ini pelajaran, sehingga setiap kali umat Buddha memasang dupa dia ingat perilakunya supaya menjadi lebih baik, ketika dia melihat bunga, dia ingat bahwa kematian akan selalu datang kita harus mengisi hidup ini dengan kebaikan.” Sejak itu dia sudah tidak memusuhi agama Buddha, masalah dia tidak jadi Buddhis, itu urusan dia. Karena di dalam Dhamma, seseorang mau belajar Dhamma, tidak harus dia menjadi seorang umat Buddha. Orang boleh melaksanakan Dhamma tanpa dia mengaku dirinya umat Buddha pun tidak masalah. Kenapa? Karena di dalam Dhamma yang paling penting adalah perubahan pikiran, menjadi orang yang lebih baik. KTP-nya Buddhis tiga kali, kemudian sudah mengumpulkan foto-foto dengan bhikkhu yang banyak sekali, di beberapa tempat rumah orang, saya melihat di pajang foto dengan bhikkhu bermacam-macam, padahal biasanya kalo saya melihat fotonya dia salaman dengan Presiden, foto salaman dengan menteri, foto salaman dengan pak camat, foto salaman dengan calon mertua, ini foto dengan bhikkhu ini, bhikkhu itu, wah senang sekali. Tapi kalo perilakunya belum berubah, dia bukan Buddhis, dia masih KTP-nya yang Buddhis. Tapi kalo dengan bhikkhu sekalipun tidak ada yang di kenal, kemudian tata upacara tadi yang di baca juga ga ngerti, saya dulu juga begitu waktu pertama kali buka buku agama Buddha, ini tulisan kok ngumpul semua, apa ini. Sudah ga ngerti yang begituan, kalo pun tidak mengerti itu tidak masalah, karena selama perilaku kita baik, ucapan kita baik, cara berpikir kita baik, dan selalu menyadari hidup yang tidak kekal ini, selalu berubah, terbatas oleh waktu. Ini sudah ajaran Sang Buddha, dan kita boleh jalani hal itu, tanpa berubah KTP. Oleh karena itu kemudian orang yang anti Buddhis itu sekarang sudah tidak lagi memusuhi agama Buddha, tetapi dia tetap dengan agamanya sendiri juga bagi saya tidak keberatan, itu urusannya dia, karena pemilihan agama adalah kecocokan, tapi masalahnya sekarang dia sudah tidak menentang lagi karena dia sudah mengerti apa sih itu agama Buddha. Nah ini yang lebih saya tekankan, kenapa kita memilih agama Buddha? Karena agama Buddha bisa di gunakan oleh siapapun juga, itu kalo pakaian yang all size, all sex lah. Siapa saja bisa pakai. Seperti sandalnya hotel aja loh, siapa saja bisa pakai, mau laki mau perempuan bisa pakai, tidak ada problem. Karena kalo agama Buddha ini ajarannya hanya berlaku bagi umat Buddha saya malah ga suka. “Sebelum kamu bernamaskara atau bersujud di depan patung Buddha kamu belum umat Buddha, nanti ga saya kasih pelajaran agama Buddha, saya malah ga ikut.” Tapi justru seni nya di agama Buddha ini adalah walaupun kita ga ngerti patung Buddha, walaupun kita ga ngerti upacara dhamma, tapi apabila kita mau melaksanakan dan mau berubah itu sebetulnya kita sudah Buddhis dan ini yang membuat bagi saya agama Buddha memang layak untuk menjadi jalan hidup kita. Pertanyaan dari Pak Yani Dhamma : - Mohon maaf Bhante, ini agak pribadi sedikit apakah ada tentangan, terutama dari pihak keluarga sampai Bhante meninggalkan agama yang dulu, terus sampai sekarang menjadi bhikkhu? Jawaban Bhante Uttamo : - Kalo tentang pemilihan agama tidak ada, karena saya dari kecil suka bertanya-tanya tentang agama dan suka belajar agama di mana-mana, jadi pindah agama itu sudah rutinitas, nah sehingga satu ketika ibu saya melihat saya belajar agama Buddha bagi dia juga itu adalah hal yang biasa, “Yah paling 2 bulan lagi juga ditinggal.” Tetapi ketika saya berniat menjadi bhikkhu itu yang problem, karena di keluarga kami tidak ada sejarah orang yang tidak kawin. Jadi ketika saya berbicara kepada ibu saya, bahwa saya mau menjadi bhikkhu, ibu saya menjawab, “Loh di dunia ini manusia di ciptakan berpasang-pasangan.” Lalu saya menjawab, “Lah kenapa tetangga kita ada yang ga kawin? Sampe tua jenggotan juga ga kawin? Mana pasangannya dia? Si itu juga sudah tua sampe jenggotan juga ga kawin, yang lain-lain saya tunjukkan, sampai ibu saya ga bisa ngomong.” Dan artinya orang lain juga tidak mengatakan, hidup itu manusia di ciptakan pasangan-pasangan, karena perkawinan itu adalah pilihan, bukan keharusan. Nah itu pertama saya sampaikan demikian. - Kemudian yang kedua, dia keberatan nanti ga bisa ketemu kalo kamu jadi bhikkhu, saya bilang bisa. Jadi bhikkhu kan bukan berarti hilang langsung pindah alam, nanti tetep bisa ketemu, tenang saja. Tetapi bagaimana ini, kamu kan tidak bisa berbakti kepada orang tua? Saya jawab, berbakti kepada orang tua itu tidak harus punya anak, karena ada satu konsep bakti, orang itu harus menikah dan punya anak, kan begitu? Melanjutkan keturunan dan seterusnya. Saya ngomong, kalo menikah dan punya anak kemudian jadi penjahat kamu malah stress loh, saya tidak menikah tetapi kan jadi orang baik, apa kamu stress saya jadi orang baik? Apa kamu senang saya jadi orang jahat? Jadi bhikkhu itu jadi orang baik, kenapa kamu tangisi? Apa saya suruh jadi penjahat biar kamu ga tangisi? Dia diam. - Nah kemudian saya jawab lagi, kalo punya istri dan punya anak itu hanya membahagiakan kamu, dan membahagiakan keluarga mertua, tapi kalo menjadi bhikkhu, itu membahagiakan banyak mertua, banyak istri, banyak suami dan lain-lain. Kenapa demikian? Karena memang jadi bhikkhu kan pelayanan sosial, orang yang stress sama mertua yah cerita, mertua yang stress sama menantu yah cerita, anak yang stress sama orang tua yah cerita, orang tua stress punya anak juga cerita, nah endingnya jadi bhikkhu kan mencoba memberikan solusi. Saya katakan, seandainya kamu punya uang seribu rupiah bisa beli roti di satu toko ini satu, lalu di toko sebelah itu sepuluh, kamu mau pilih roti dimana? Yah pasti beli yang sepuluh, nah itu dia kamu kan pasti beli yang sepuluh, nah saya sebagai bhikkhu, kalo saya kawin itu saya seperti kamu punya uang seribu beli roti di satu toko, dapat satu saja, untuk membahagiakan istri sendiri, anak sendiri, mertua sendiri. Tapi kan uang seribu ini, kamu punya anak yang namanya saya ini kan sekarang jadi bhikkhu, itu kamu bisa dapat roti banyak artinya membahagiakan lebih banyak keluarga, kamu pilih yang mana? - Nah kalo kakak saya yang menikah membahagiakan kamu di dunia ini, kalo kamu merelakan saya jadi bhikkhu, kamu saya bahagiakan di alam kelahiran berikutnya berkali-kali. Karena kebajikan kamu sebagai orang tua itu akan di rasakan oleh banyak pihak. - Dan pertanyaan terakhir saya menanyakan, orang tua pengen ga anaknya bahagia? Owh yah pasti pengen. Nah kalo saya bahagianya kalo saya jadi bhikkhu. Yah sudahlah, langsung dia tanda tangan, yah karena sudah tidak ada pilihan lain. SELESAI…. Semoga semua mahluk hidup berbahagia copyright : www.samaggi-phala.or.id

Selasa, 23 Agustus 2011

Metodologi Akuntansi Forensik

Perbedaaan utama akuntansi forensik dengan akuntansi maupun audit konvensional lebih terletak pada mindset (kerangka pikir). Metodologi kedua jenis akuntansi tersebut tidak jauh berbeda. Akuntasi forensik lebih menekankan pada keanehan (exceptions, oddities, irregularities) dan pola tindakan (pattern of conduct) daripada kesalahan (errors) dan keteledoran (ommisions) seperti pada audit umum. Prosedur utama dalam akuntansi forensic menekankan pada analytical review dan teknik wawancara mendalam (in depth interview) walaupun seringkali masih juga menggunakan teknik audit umum seperti pengecekan fisik, rekonsiliasi, konfirmasi dan lain sebagainya.

Akuntansi forensik biasanya fokus pada area-area tertentu (misalnya penjualan, atau pengeluaran tertentu) yang ditengarai telah terjadi tindak kecurangan baik dari laporan pihak dalam atau orang ketiga (tip off) atau, petunjuk terjadinya kecurangan (red flags), petunjuk lainnya. Data menunjukkan bahwa sebagian besar tindak kecurangan terbongkar karena tip off dan ketidaksengajaan (accident).

Agar dapat membongkar terjadinya fraud (kecurangan) maka seorang akuntan forensik harus mempunyai pengetahuan dasar akuntansi dan audit yang kuat, pengenalan perilaku manusia dan organisasi (human dan organization behaviour), pengetahuan tentang aspek yang mendorong terjadinya kecurangan (incentive, pressure, attitudes, rationalization, opportunities) pengetahuan tentang hukum dan peraturan (standar bukti keuangan dan bukti hukum), pengetahuan tentang kriminologi dan viktimologi (profiling) pemahaman terhadap pengendalian internal, dan kemampuan berpikir seperti pencuri (think as a theft).